Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Mei 2017

Suara Serak

SUARA MENJADI SERAK

suara serak adalah kondisi ketika suara Anda mengalami perubahan yang tidak normal, pada umumnya berubah menjadi parau dan berat. Kondisi ini bisa bersifat sementara (akibat penyakit) dan bersifat permanen (akibat pertambahan usia pada pria).
Beberapa faktor yang bisa membuat suara menjadi serak, salah satu yang paling umum adalah adalah infeksi pada saluran pernapasan atas akibat virus yang menyebabkan pita suara mengalami inflamasi (laringitis). Selain itu, suara serak juga terjadi akibat:
  • Batuk secara terus-menerus
  • Iritasi pada saluran pernapasan
  • Kerusakan pada pita suara
  • Adanya polip, kista, dan nodul jinak pada pita suara
  • Kanker pita suara
  • Penyakit GERD
  • Gangguan tiroid
  • Penyakit saraf (misalnya stroke)
  • Paparan asap rokok secara jangka panjang
  • Konsumsi minuman berkafein dan beralkohol
  • Paparan zat beracun
  • Alergi
  • Berteriak atau bernyanyi secara berlebihan atau dalam waktu lama
  • Aneurisma aorta
  • Kanker paru-paru
  • Masa pubertas (pada pria)

suara serak - alodokter

Diagnosis Suara Serak

Temuilah dokter jika suara serak Anda berlangsung lebih dari sepuluh hari, atau lebih dari tujuh hari pada anak Anda, karena dikhawatirkan merupakan gejala kepada penyakit serius.
Dokter biasanya dapat mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan suara serak melalui pemeriksaan fisik, serta melalui informasi tentang pola hidup dan riwayat kesehatan Anda. Dokter juga biasanya akan menanyakan gejala yang menyertai suara serak Anda, misalnya badan yang terasa lelah atau demam.

Pengobatan Suara Serak

Pengobatan suara serak tergantung dari faktor apa yang menyebabkannya. Biasanya jika kondisi yang mendasari suara serak berhasil ditangani, maka otomatis suara serak juga akan sembuh.
Sebagai contoh, dokter mungkin akan meresepkan antibiotik virus pada kasus suara serak yang disebabkan oleh laringitis. Pada kasus trauma, polip, dan kanker pada pita suara, maka tidak menutup kemungkinan dokter akan melakukan operasi sebagai penanganannya.
Untuk meringankan gejala suara serak, Anda bisa mempraktikan tips-tips berikut ini di rumah:
  • Minum banyak air putih, upayakan sebanyak dua liter sehari
  • Istirahatkan pita suara Anda selama beberapa hari
  • Hindari berteriak-teriak
  • Hindari konsumsi minuman berkafein dan beralkohol
  • Hindari rokok
  • Jauhi faktor-faktor pemicu alergi
  • Hindari dekongestan karena bisa mengiritasi tenggorokan
  • Coba konsumsi permen pelega tenggorokan
  • Mandi air hangat

Nyeri Haid

NYERI HAID PADA PEREMPUAN
Nyeri haid atau dismenorea adalah kram otot yang dirasakan pada perut bagian bawah yang muncul sebelum atau ketika mengalami menstruasi. Nyeri yang dirasakan terkadang bisa cukup parah dan menyebar hingga ke punggung dan paha, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Rasa nyeri ini bisa berlangsung selama dua hingga tiga hari.
Nyeri haid berbeda dengan sindrom pramenstruasi (PMS), tapi gejala dari kedua kondisi ini bisa dianggap sebagai proses yang saling berkaitan. Kondisi ini akan membaik seiring bertambahnya usia dan juga setelah wanita memiliki anak.

Penyebab Munculnya Nyeri Haid pada Wanita

Nyeri haid disebabkan oleh dinding otot rahim yang berkontraksi sehingga menekan pembuluh darah di sekitarnya. Akibatnya, pasokan oksigen ke dalam rahim terhambat dan memicu munculnya rasa nyeri di bagian bawah perut.
Sembilan dari sepuluh wanita akan mengalami nyeri haid dan rasa tidak nyaman saat mengalami menstruasi. Kondisi ini sangat umum terjadi. Rasa sakit atau nyeri yang muncul memiliki pengaruh berbeda-beda pada tiap wanita.

Pengobatan untuk Nyeri Haid

Jika kondisinya tidak parah, nyeri haid biasanya bisa ditangani sendiri di rumah tanpa bantuan dokter. Obat-obatan pereda rasa sakit dapat dikonsumsi untuk membantu meredakan gejala yang muncul. Ada berbagai jenis obat pereda rasa sakit yang bisa dibeli bebas di apotek untuk mengatasinya.
Selain itu, terdapat beberapa cara alami yang bisa dilakukan sendiri untuk mengatasi nyeri haid yang muncul ketika Anda mengalami menstruasi. Tapi untuk nyeri haid yang parah, Anda disarankan menemui dokter untuk memeriksa faktor penyebab yang mendasari munculnya nyeri haid tersebut.
Gejala Nyeri Haid
Nyeri haid dirasakan oleh hampir semua wanita pada perut bagian bawah ketika mengalami menstruasi. Terkadang rasa nyeri itu bisa menyebar sampai ke punggung bawah dan bahkan paha. Ada nyeri haid ringan yang bisa diabaikan, tapi ada juga yang sangat parah dan bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.
Berikut ini adalah beberapa gejala yang sering muncul dengan rasa nyeri pada perut bagian bawah.
  • Mual dan kadang-kadang muntah
  • Sakit kepala dan pusing
  • Sering buang air kecil
  • Diare
Gejala-gejala di atas umumnya muncul sebelum atau ketika menstruasi dimulai. Kondisi ini biasanya bertahan dua hingga empat hari, tapi untuk kasus yang parah bisa bertahan lebih lama. Ketika perdarahan yang terjadi cukup banyak, rasa sakit juga akan makin bertambah. Kondisi ini akan membaik saat usia bertambah dan juga setelah Anda memiliki anak.
Terdapat juga nyeri haid yang muncul beberapa tahun setelah Anda mengalami menstruasi. Kondisi ini biasanya tidak perlu dikhawatirkan. Tapi jika nyeri haid yang parah muncul tiap bulan, atau ketika Anda berusia di atas 25 tahun dan gejalanya memburuk, Anda disarankan untuk segera menemui dokter.

mimisan


MIMISAN


Hampir semua orang pernah mengalami mimisan. Kondisi ini cenderung menakutkan dan menyebabkan kepanikan, khususnya jika terjadi pada anak-anak atau lansia. Perlu diketahui bahwa mimisan atau epistaksis merupakan kondisi yang umum terjadi dan biasanya tidak mengancam jiwa.
Hasil gambar untuk MIMISAN

Mimisan adalah pendarahan yang terjadi dari hidung. Darah dapat keluar dari salah satu atau kedua lubang hidung dengan durasi yang berbeda-beda. Ada yang mengalaminya hanya selama beberapa detik, dan ada yang lebih dari 10 menit.
Ada beberapa kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami mimisan, yaitu anak-anak berusia 2 hingga 10 tahun, lansia, ibu hamil, orang yang sering mengonsumsi obat pengencer darah (seperti aspirin) dan obat antikoagulan, serta pengidap kelainan darah, seperti hemofilia.

Gejala-gejala Mimisan yang perlu Diwaspadai

Kondisi ini umumnya tidak berbahaya. Meski demikian, Anda tetap perlu berhati-hati karena mimisan mungkin saja mengindikasikan adanya penyakit-penyakit tertentu. Beberapa indikasi dan mimisan yang sebaiknya diwaspadai meliputi:
  • Mimisan yang berlangsung lebih dari 30 menit. Jika mengalaminya, Anda sebaiknya segera ke rumah sakit.
  • Mimisan yang terjadi pada anak-anak berusia di bawah 2 tahun.
  • Mimisan dengan volume darah yang banyak.
  • Mimisan yang terjadi setelah operasi di daerah hidung atau sinus.
  • Sering mimisan dalam waktu singkat.
  • Detak jantung yang tidak beraturan.
  • Kesulitan bernapas.
  • Apabila Anda sedang mengonsumsi obat pengencer darah seperti aspirin atau warfarin.
  • Muntah darah karena menelan banyak darah.
  • Demam atau mengalami ruam.
  • Mimisan yang terjadi setelah Anda mengalami cedera.
  • Kulit berubah pucat.
  • Mimisan yang disertai pendarahan dari bagian lain tubuh, misalnya pada urine.
Jika Anda atau anak Anda mengalami gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera menghubungi dokter atau ke rumah sakit.

Jenis dan Penyebab Mimisan

Dinding dalam hidung kita penuh dengan pembuluh darah halus yang terletak mendekati lapisan kulit sehingga mudah rusak. Berdasarkan lokasi pendarahan yang terjadi, mimisan terbagi dalam dua jenis, yaitu anterior atau bagian depan dan posterior atau bagian belakang.
Lebih dari 90 persen kasus mimisan merupakan jenis anterior yang termasuk mudah ditangani. Pada jenis mimisan ini, pendarahan terjadi dari bagian depan hidung. Mimisan ini juga umumnya dialami oleh anak-anak.
Sedangkan pada mimisan jenis posterior, pendarahan berasal dari pembuluh darah yang terletak di bagian belakang hidung (di antara langit-langit mulut dan rongga hidung). Mimisan yang umumnya jarang terjadi ini cenderung lebih serius dengan volume pendarahan yang lebih banyak. Kelompok orang yang sering mengalaminya adalah orang dewasa dan lansia.
Mimisan dapat disebabkan oleh berbagai hal. Faktor pemicunya bisa berupa penggunaan obat-obatan, keturunan, hingga penyakit. Beberapa di antaranya adalah:
  • Proses buang ingus yang terlalu kencang.
  • Tidak sengaja melukai dinding hidung saat mengorek hidung.
  • Udara yang kering dan dingin. Lapisan dalam hidung yang kering menjadikannya lebih rentan terluka dan terinfeksi.
  • Bentuk hidung yang bengkok, misalnya karena keturunan atau cedera.
  • Sinusitis akut atau kronis.
  • Penggunaan obat-obatan tertentu, misalnya aspirin, antikoagulan, atau obat pelega pernapasan yang berlebihan.
  • Iritasi akibat senyawa kimia, misalnya amonia.
  • Cedera hidung.
  • Penggunaan obat-obatan terlarang, seperti menghirup kokain.
  • Operasi hidung.
  • Tumor pada rongga hidung.
  • Kelainan pada kemampuan pembekuan darah, misalnya hemofilia.
  • Konsumsi alkohol.

Metode Penanganan Mimisan

Pada umumnya, mimisan adalah kondisi yang dapat ditangani sendiri di rumah. Berikut ini adalah beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan jika Anda atau anak Anda mimisan.
  • Duduk tegak dan jangan berbaring. Posisi duduk akan mengurangi tekanan pada pembuluh darah hidung sehingga dapat menghentikan pendarahan.
  • Condongkan tubuh ke depan sehingga darah keluar lewat hidung dan tidak masuk ke tenggorokan.
  • Keluarkan dan buang darah yang mengalir ke mulut. Menelan darah dapat memicu keinginan untuk muntah.
  • Gunakan ibu jari dan telunjuk untuk memencet hidung selama sekitar 10 menit. Langkah ini akan memberi tekanan pada sumber pendarahan sehingga menghentikan darah. Jangan lupa untuk bernapas lewat mulut.
  • Letakkan kompres dingin pada pangkal hidung untuk memperlambat pendarahan.
Setelah mimisan berhenti, usahakan agar Anda tidak membuang ingus, membungkuk, atau melakukan aktivitas berat selama setidaknya 24 jam. Langkah ini juga dapat mencegah terjadinya iritasi pada hidung.
Apabila mimisan tidak kunjung berhenti setelah 20 menit, Anda sebaiknya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Penentuan jenis penanganan ini tergantung kepada penyebab mimisan.
Prosedur operasi juga dapat menjadi pilihan jika dibutuhkan. Contoh-contoh prosedur yang dapat menjadi alternatif adalah:
  • Membakar pembuluh darah yang sobek menggunakan nitrat atau arus listrik.
  • Menyumbat hidung dengan kapas atau perban kasa agar pembuluh darah bisa ditekan sehingga mimisan berhenti. Pasien biasanya akan dirawat di rumah sakit agar kondisinya bisa dipantau.
  • Operasi kecil untuk mengikat pembuluh darah di bagian belakang hidung yang mengalami pendarahan.

Langkah Pencegahan Mimisan

Bekas luka pada pembuluh darah sehabis mimisan biasanya dapat membentuk koreng dan membuat hidung terasa tidak nyaman. Tetapi jangan mengorek koreng tersebut karena hal ini dapat kembali memicu mimisan.
Hidung juga umumnya akan lebih rentan terkena iritasi atau infeksi setelah mimisan. Karena itu, menjauhlah sebisa mungkin dari pengidap flu, batuk, atau pilek. Menghindari rokok, minuman keras, serta minuman panas juga dapat membantu.
Di samping menghindari kambuhnya mimisan, ada sejumlah langkah pencegahan yang mungkin berguna . Langkah-langkah sederhana tersebut meliputi:
  • Berhati-hatilah saat mengorek hidung. Jangan terlalu dalam.
  • Jangan membuang ingus terlalu kencang.
  • Berhenti merokok. Rokok dapat mengurangi kelembapan hidung dan meningkatkan risiko iritasi hidung.
  • Gunakan obat pelega hidung sesuai dengan dosis pada kemasan atau anjuran dokter.
  • Diskusikan dengan dokter jika Anda pernah mimisan dan harus menggunakan obat antikoagulan.

penyakit kejang demam


PENYAKIT KEJANG DEMAM


Kejang demam adalah kejang-kejang yang terjadi pada anak-anak akibat kenaikan suhu tubuh secara drastis dan mendadak. Kondisi ini biasanya terjadi ketika anak menderita sebuah infeksi. Kejang demam umumnya terjadi pada anak usia enam bulan hingga tiga tahun.
Kejang demam merupakan respon dari otak anak terhadap demam, dan biasanya terjadi di hari pertama demam. Namun setelah demam mencapai tingkat suhu yang tinggi, risiko kejang biasanya akan menurun. Kejang demam memang terlihat mengerikan, namun umumnya tidak berbahaya bagi anak yang mengalaminya.
Beberapa faktor yang dapat memperbesar risiko terjadinya kejang demam adalah:
  • Keturunan. Risiko seorang anak mengalami kejang demam akan lebih besar jika ada anggota keluarganya yang juga mengalami hal sama.
  • Usia. Anak usia enam bulan hingga lima tahun lebih berisiko terkena kejang demam dibandingkan anak yang berusia di luar itu.

Gejala Kejang Demam

Gejala kejang demam berbeda-beda, tergantung pada tingkat keparahannya. Dalam tingkatan yang masih tergolong ringan hingga menengah, gejala yang muncul biasanya berupa mata yang tampak terbuka lebar (terbelalak). Sedangkan pada tingkat keparahan yang lebih tinggi, gejala bisa berupa tubuh yang mengejang atau otot-otot menegang.
Kejang demam seringkali terjadi dalam kurun 24 jam setelah terjadinya infeksi pada tubuh anak. Saat mengalami kejang demam, anak juga bisa menunjukkan beberapa gejala lain, seperti:
  • Lengan dan kaki bergerak tidak terkontrol.
  • Bola mata tampak menatap ke atas.
  • Kehilangan kesadaran.
  • Muntah
  • Mulut berbusa.
Kejang demam dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu kejang demam seederhana dan kejang demam kompleks. Pada kasus kejang demam sederhana, kejang biasanya hanya berdurasi beberapa detik hingga 15 menit. Meskipun terjadi pada seluruh tubuh, kejang tidak akan berulang dalam waktu 24 jam. Sedangkan pada kejang demam kompleks, durasi kejang berlangsung lebih dari 15 menit, serta bisa terjadi lebih dari satu kali dalam sehari. Kejang demam kompleks bisa terjadi pada sebagian tubuh anak saja.

Penyebab Kejang Demam

Kejang demam terjadi akibat lonjakan atau kenaikan suhu tubuh anak secara drastis ketika mengalami demam. Ada dua hal yang bisa menjadi pemicunya, yaitu:
  • Imunisasi. Pada beberapa anak, pemberian imunisasi dapat menimbulkan demam yang bisa memicu kejang demam.
  • Infeksi, baik itu akibat virus atau bakteri.

Diagnosis Kejang Demam

Langkah pertama yang dilakukan dokter pada pasien yang mengalami kejang demam sederhana adalah mendiagnosis penyebab infeksi. Hal tersebut bisa dilakukan melalui pemeriksaan darah, urine, atau pungsi lumbal (spinal tap).
Sedangkan untuk penderita kejang demam kompleks, dokter biasanya akan menambahkan metode pemeriksaan melalui elektroensefalografi (EEG). Cara ini dapat memberikan informasi pada dokter seputar aktivitas otak penderita. Jika kejang demam hanya terjadi pada sebagian tubuh saja, dokter juga akan merekomendasikan untuk dilakukannya pemindaian otak dengan MRI.

Pengobatan dan Pencegahan Kejang Demam

Pada banyak kasus, kejang demam akan berhenti dengan sendirinya setelah beberapa menit. Namun untuk melindungi anak dari cedera selama mengalami kejang, orang tua dapat melakukan beberapa hal berikut:
  • Baringkan anak di lantai. Pada bayi, rebahkan di pangkuan dengan posisi wajah bayi menghadap ke bawah. Jangan menahan tubuh anak.
  • Miringkan posisi tubuh anak agar muntah atau air liur dapat keluar dari rongga mulut, serta agar mencegah lidah menyumbat saluran pernapasan.
  • Longgarkan pakaian anak.
  • Jangan menaruh apa pun pada mulut anak untuk mencegah tergigitnya lidah.
  • Hitunglah durasi terjadinya kejang demam dan perhatikan tingkah laku anak saat kejang-kejang. Beritahukan kedua hal ini saat berkonsultasi ke dokter.
Jika kejang demam sudah mereda dan anak dirasa tidak perlu dibawa ke dokter, tidurkan anak dalam ruangan yang sejuk. Mengantuk adalah hal yang wajar terjadi pada anak setelah mengalami kejang demam. Jika anak mengalami kesulitan bernapas, rebahkan anak dan miringkan tubuh dan kepala. Kemudian bersihkan rongga mulut dari bekas muntah atau air liur dengan perlahan menggunakan jari.
Segera temui dokter jika kejang demam berlangsung selama lebih dari 10 menit atau terjadi berulang kali. Dokter akan meresepkan obat untuk menghentikan kejang-kejang jika kejang demam berlangsung lebih dari 15 menit.
Pemberian paracetamol atau ibuprofen ketika anak baru saja demam tidak dapat mencegah kejang. Dokter dapat meresepkan obat antikejang (antikonvulsan) untuk mencegah kejang demam. Namun hal ini jarang dilakukan karena risiko efek sampingnya lebih besar daripada manfaatnya.

Komplikasi Kejang Demam

Kejang demam sederhana tidak mengakibatkan kerusakan otak ataupun kecacatan mental. Kondisi ini juga bukan merupakan tanda-tanda epilepsi. Pada anak yang pernah mengalami kejang demam, risiko untuk mengalami kejang demam lagi akan lebih besar jika:
  • Jeda antara awal demam dengan terjadinya kejang demam cukup singkat.
  • Kejang demam pertama terjadi akibat demam ringan.
  • Usia penderita di bawah 15 bulan ketika mengalami kejang demam pertama.
  • Salah satu anggota keluarga pernah mengalami kejang demam.

Senin, 15 Mei 2017

Hepatitis A, B & C

HEPATITIS A
Hepatitis A merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis tipe A dan menyerang sel-sel hati manusia. Setiap tahunnya di Asia Tenggara, kasus hepatitis A menyerang sekitar 400.000 orang per tahunnya dengan angka kematian hingga 800 jiwa. Sebagian besar penderita hepatitis A adalah anak-anak.
Hasil gambar untuk hepatitis a
Gejala awal yang dapat muncul meliputi demam, mual, muntah, nyeri pada sendi dan otot, serta diare. Ketika organ hati sudah mulai terserang, ada beberapa gejala lain yang akan muncul, yaitu urine berwarna gelap, tinja berwarna pucat, sakit kuning dan gatal-gatal. Selain itu, daerah perut bagian kanan atas juga akan terasa sakit terutama jika ditekan.
Tetapi tidak semua pengidap mengalami gejala hepatitis A. Karena itu, penyakit ini kadang sulit untuk disadari. Hanya satu dari sepuluh penderita hepatitis A di bawah umur 6 tahun yang mengalami sakit kuning. Sedangkan pada remaja dan orang dewasa, penyakit ini biasanya menyebabkan gejala yang lebih parah dan 70 persen di antaranya akan mengalami sakit kuning.
Tidak seperti dua jenis hepatitis lainnya yakni hepatitis B dan hepatitis C, infeksi akibat hepatitis A ini tidak menyebabkan gangguan hati jangka panjang (kronis), dan jarang berakibat fatal. Namun, hepatitis A dapat menyebabkan munculnya gejala kerusakan hati akut, yang mana cukup berbahaya dan berpotensi mengancam nyawa.
Penyebab dan Penularan Hepatitis A
style="background-color: white; border: 0px; color: black; cursor: pointer; font-family: museosans300, sans-serif; font-size: 16px; margin: 0px; outline: 0px; padding: 0px; vertical-align: baseline;" target="_blank">Penyebab penyakit ini
 adalah virus hepatitis A yang dapat menyebar dengan sangat mudah. Cara penyebaran utamanya adalah melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi oleh tinja pengidap hepatitis A. Beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan penyebaran virus ini meliputi:
§  Sanitasi yang buruk.
§  Kontak langsung dengan pengidap.
§  Berbagi jarum suntik.
§  Berhubungan seks dengan pengidap, terutama seks anal.
§  Pria yang berhubungan seks dengan sesama pria.
§  Bekerja di area yang berhubungan dengan kotoran, misalnya selokan.
Langkah Pengobatan Hepatitis A
Penyakit ini tidak memiliki langkah penanganan khusus karena sistem kekebalan tubuh akan melenyapkan virus dengan sendirinya.
Namun, dokter mungkin akan meresepkan obat untuk meringankan gejala-gejala yang dialami pengidapnya. Penanganannya meliputi mengonsumsi obat pereda gatal, sakit, mual dan muntah sesuai dosis. Organ hati juga perlu dibiarkan untuk beristirahat misalnya dengan tidak mengonsumsi minuman keras dan berhati-hati dengan obat-obat yang bisa berdampak pada hati.
Waktu yang dibutuhkan pengidap untuk pulih sepenuhnya dari penyakit ini biasanya beberapa bulan. Pengidap yang berhasil sembuh total akan memiliki kekebalan tubuh terhadap penyakit ini.
Risiko Komplikasi Hepatitis A
Infeksi hepatitis A umumnya tidak menyebabkan penyakit hati jangka panjang (kronis) dan jarang yang berakibat fatal. Meski demikian, penyakit ini berpotensi menyebabkan gagal hati terutama pada mereka yang telah mengidap penyakit hati sebelum terinfeksi hepatitis A dan penderita manula. Selain itu, pada sebagian penderita infeksi ini bisa kambuh atau kembali lagi.
Cara-cara Mencegah Hepatitis A
Karena penyebaran utamanya adalah melalui konsumsi sesuatu yang terkontaminasi, langkah utama pencegahan hepatitis A adalah dengan menjaga kebersihan. Langkah ini dapat dilakukan dengan mudah, misalnya selalu mencuci tangan, menghindari konsumsi makanan mentah atau kurang matang serta menghindari konsumsi air mentah yang tidak terjamin kebersihannya.

Selain itu, vaksinasi hepatitis A juga dapat mencegah penyakit ini. Terutama bagi mereka yang memiliki risiko tinggi seperti orang yang mengidap penyakit hati kronis, serta pengguna jarum suntik yang tidak steril.

HEPATITIS B 
Hepatitis B adalah infeksi serius pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV). Hepatitis B bisa menyebabkan kondisi akut dan kronis pada pasien. Jika sudah memasuki level kronis, penyakit ini bisa membahayakan nyawa penderitanya. Jika tidak segera ditangani, pendertia hepatitis B kronis berisiko terkena sirosis, kanker hati, atau gagal hati.
Hasil gambar untuk hepatitis b
Hepatitis B sulit dikenali karena gejala-gejalanya tidak langsung terasa dan bahkan ada yang sama sekali tidak muncul. Karena itulah, banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Virus ini biasanya berkembang selama 1-5 bulan sejak terjadi pajanan terhadap virus sampai kemunculan gejala pertama.
Beberapa gejala umum hepatitis B antara lain:
§  Kehilangan nafsu makan.
§  Mual dan muntah.
§  Nyeri di perut bagian bawah.
§  Sakit kuning (dilihat dari kulit dan bagian putih mata yang menguning).
§  Gejala yang mirip pilek, misalnya lelah, nyeri pada tubuh, dan sakit kepala.
Penderita Hepatitis B di Indonesia
Hepatitis B merupakan masalah kesehatan dunia, termasuk di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 680 ribu orang meninggal dunia tiap tahun akibat komplikasi hepatitis B, seperti siroris dan kanker hati.
Di Indonesia sendiri, hasil riset Kesehatan Dasar pada yang dirilis pada 2015 menunjukkan bahwa penderita hepatitis di Indonesia diperkirakan mencapai 28 juta orang, dimana setengah di antaranya berpotensi untuk menjadi kronis, dan 10 persen dari risiko kronis tersebut akan mengalami sirosis atau bahkan kanker hati.
Cara Penularan Hepatitis B
Hepatitis B dapat menular melalui darah dan cairan tubuh, misalnya sperma dan cairan vagina. Beberapa cara penularan umumnya antara lain:
§  Kontak seksual. Misalnya berganti-ganti pasangan dan berhubungan seks tanpa alat pengaman.
§  Berbagi jarum suntik. Misalnya menggunakan alat suntik yang sudah terkontaminasi darah penderita hepatitis B.
§  Kontak dengan jarum suntik secara tidak disengaja. Misalnya petugas kesehatan (paramedis) yang sering berurusan dengan darah manusia.
§  Ibu dan bayi. Ibu yang sedang hamil dapat menularkan penyakit ini pada bayinya saat persalinan.
Diagnosis pada Hepatitis B
Diagnosis hepatitis B dilakukan melalui serangkaian pemeriksaan darah, yakni tes antigen dan antibodi untuk virus hepatitis B, serta pemeriksaan darah untuk melihat fungsi hati.
Ada tiga jenis pemeriksaan antigen dan antibodi untuk hepatitis B, yakni hepatitis B surface antigen (HbsAg), hepatitis B core antigen (HbcAg), antibodi hepatitis B surface antigen (anti-HbsAg). Masing-masing tes ini memiliki fungsi yang berbeda, dan akan dijelaskan lebih mendetail pada bagian diagnosis.
Tes fungsi hati dilakukan untuk memeriksa kemungkinan menderita penyakit hati lainnya. Hal ini dikarenakan gejala hepatitis B seringkali menyerupai penyakit lainnya, terutama gangguan di hati. Pada pemeriksaan ini, akan dilihat apakah terdapat peningkatan enzim hati, yang menandakan bahwa hati Anda sedang berada di bawah tekanan atau sedang mengalami gangguan tertentu.
Hepatitis B Akut dan Kronis
Ada dua jenis infeksi hepatitis B, yaitu akut (terjadi dalam waktu singkat) dan kronis (jangka panjang). Infeksi akut umumnya dialami oleh orang dewasa. Jika mengalami hepatitis B akut, sistem kekebalan tubuh Anda biasanya dapat melenyapkan virus dari tubuh dan Anda akan sembuh dalam beberapa bulan.
Hepatitis B kronis terjadi saat virus tinggal dalam tubuh selama lebih dari enam bulan. Jenis hepatitis B ini lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Anak-anak yang terinfeksi virus pada saat lahir berisiko mengalami hepatitis B empat sampai lima kali lebih besar dibanding anak-anak yang terinfeksi pada masa balita.
Sebanyak 20 persen orang dewasa yang terpapar virus ini akan berujung pada diagnosis hepatitis B kronis. Penderita hepatitis B kronis bisa menularkan virus meski tanpa menunjukkan gejala apa pun. Berdasarkan penelitian WHO, sekitar 3 dari 10 penderita hepatitis B kronis akan mengalami sirosis.
Sirosis adalah kerusakan hati jangka panjang atau kronis yang menyebabkan luka pada hati. Perkembangan penyakit yang perlahan-lahan mengakibatkan jaringan sehat digantikan oleh jaringan rusak. Fungsi hati dalam memproses nutrisi, hormon, obat, dan racun yang diproduksi tubuh akan melambat.
Pengobatan Hepatitis B
Tidak ada langkah khusus dalam pengobatan hepatitis B. Tujuan pengobatan kondisi ini adalah untuk mengurangi gejala dengan obat pereda sakit, serta menjaga kenyamanan sehari-hari si penderita dan keseimbangan gizinya.
Sementara itu, pengobatan untuk hepatitis B kronis tergantung pada tingkat keparahan infeksi pada hati. Penanganan penyakit ini adalah menggunakan obat-obatan yang berfungsi untuk menghambat produksi virus dan mencegah kerusakan pada hati.
Vaksin dan Pencegahan Hepatitis B
Langkah efektif dalam pencegahan hepatitis B adalah dengan melakukan vaksin. Di Indonesia sendiri, vaksin hepatitis B termasuk vaksin wajib dalam imunisasi. Proses pemberian vaksin dilakukan sebanyak tiga kali, yaitu saat anak lahir, saat anak berusia 1 bulan, dan pada saat anak berusia 3-6 bulan. Meskipun begitu, orang dewasa dari segala usia pun dianjurkan untuk menerima vaksin hepatitis B, terutama apabila mereka berisiko tinggi tertular hepatitis B. Contohnya seperti:
§  Orang yang memiliki lebihdari satu pasangan seksual.
§  Orang yang menggunakan obat suntik atau berhubungan seks dengan pengguna obat suntik.
§  Petugas kesehatan (paramedis) yang berisiko terpapar virus hepatitis B.
§  Orang yang tinggal serumah dengan penderita hepatitis B.
§  Penderita penyakit hati kronis.
§  Penderita penyakit ginjal.
Pemeriksaan hepatitis B juga diterapkan bagi ibu hamil. Jika sang ibu mengidap penyakit ini, bayinya harus menerima vaksin pada saat lahir (12 jam setelah persalinan) untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi. Langkah lain yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko terkena hepatitis B di antaranya adalah:
§  Berhenti atau jangan menggunakan obat-obatan terlarang.
§  Hindari berbagi penggunaan barang seperti sikat gigi, anting-anting, ataualat cukur.
§  Waspadalah saat ingin menindik ataumenato tubuh.
§  Jangan berhubungan seks tanpa alat pengaman kecuali Anda yakin pasangan Anda tidak memiliki hepatitis B atau penyakit kelamin menular lainnya.
Apabila Anda telah melakukan kontak dengan salah seorang penderita hepatitis B dalam rentang waktu 24 jam terakhir, segera periksakan diri ke dokter. Risiko penularan penyakit ini dapat diturunkan dengan pemberian suntikan imunoglobulin hepatitis B. Ini adalah larutan obat yang berisi antibodi guna melawan virus hepatitis B.


HEPATITIS C


Hepatitis C adalah salah satu penyakit yang dapat menyerang hati. Penyakit yang disebabkan oleh virus ini dapat memicu infeksi dan inflamasi pada hati.

Hepatitis C umumnya tidak menunjukkan gejala pada tahap-tahap awal. Karena itu, sekitar penderita hepatitis C tidak menyadari bahwa dirinya sudah tertular sampai akhirnya menderita kerusakan hati bertahun-tahun kemudian.
Hasil gambar untuk hepatitis c
Sekalipun ada gejala hepatitis C yang muncul, indikasinya mirip dengan penyakit-penyakit lain sehingga sulit disadari. Beberapa di antaranya adalah selalu merasa lelah, pegal-pegal, serta tidak nafsu makan.
Hepatitis C Akut dan Kronis
Virus hepatitis C dapat menyebabkan infeksi akut dan kronis.
Hepatitis C akut adalah infeksi yang terjadi pada 6 bulan pertama. Infeksi ini biasanya tanpa gejala dan jarang yang mematikan. Sekitar 15-45 persen penderitanya berhasil sembuh dari penyakit ini tanpa penanganan khusus.
Sementara 55 hingga 85 persen sisanya akan menyimpan virus untuk waktu yang lama yang kemudian berkembang menjadi infeksi hepatitis C kronis. Penderita hepatitis C kronis memiliki risiko sekitar 15-30 persen untuk terkena sirosis hati dalam waktu 20 tahun. Sirosis Komplikasi ini dapat berakibat fatal.
Menurut WHO, jumlah penderita hepatitis C kronis di dunia mencapai 130 hingga 150 juta jiwa dan ada sekitar 700 ribu jiwa yang mengidap penyakit hati yang disebabkan oleh hepatitis C. Sedangkan di Indonesia, tercatat ada setidaknya 28 juta penduduk yang menderita hepatitis C serta B dan separuh di antaranya berkembang menjadi kronis.
Cara Penularan Hepatitis C
Virus hepatitis C berkembang dalam darah. Karena itu, kita akan tertular hepatitis C jika mengalami kontak dengan darah penderita.
Cara penularan hepatitis C yang paling umum terjadi adalah melalui jarum suntik, misalnya pengguna obat-obatan terlarang yang berbagi jarum suntik atau menjalani proses pembuatan tato di tempat yang tidak memiliki peralatan steril. Di samping itu, saling meminjamkan barang pribadi seperti gunting kuku dan sikat gigi serta hubungan seks bebas juga dapat mempertinggi risiko seseorang untuk tertular penyakit ini.
Meski demikian, virus hepatitis C tidak akan menular melalui air susu ibu, makanan, minuman, maupun bersentuhan seperti bersalaman atau berpelukan.
Diagnosis dan Pengobatan Hepatitis C
Apabila ditangani sedini mungkin, kerusakan hati pada penderita hepatitis C dapat dicegah dan dihambat. Karena itu, orang-orang yang berisiko tinggi tertular penyakit ini disarankan untuk menjalani tes darah guna mendiagnosis hepatitis C. Misalnya, orang yang pernah atau aktif menggunakan obat-obatan terlarang lewat suntikan atau yang pernah menjalani transfusi darah.
Jika positif mengidap hepatitis C, Anda belum tentu membutuhkan pengobatan. Sistem kekebalan tubuh umumnya mampu memberantas infeksi dasn tidak semua pengidap hepatitis C kronis pasti akan mengalami kerusakan hati.
Hepatitis C akut biasanya bisa sembuh tanpa penanganan khusus. Sementara penderita hepatitis C kronis membutuhkan langkah penanganan melalui obat-obatan antivirus. Obat tersebut akan menghentikan perkembangan virus dan mencegah kerusakan hati. Contoh antivirus yang umum digunakan adalah interferon dan ribavirin.
Para pakar kemudian berhasil menemukan  jenis obat baru yang lebih efektif sekaligus lebih aman dan bisa ditoleransi oleh tubuh. Nama obat terbaru itu adalah direct antiviral agent (DAA).
Harap diingat bahwa jika pernah mengidap dan sembuh dari hepatitis C, bukan berarti tubuh Anda memiliki kekebalan sepenuhnya terhadap virus tersebut. Meski sudah pulih, penderita hepatitis C harus berhati-hati karena tetap memiliki risiko untuk kembali terinfeksi penyakit yang sama.
Langkah Pencegahan Hepatitis C
Hepatitis C belum bisa dicegah dengan vaksinasi. Tetapi ada beberapa cara yang dapat kita lakukan  untuk menurunkan risiko penularan, misalnya berhenti atau tidak menggunakan obat-obatan terlarang. Tidak berbagi penggunaan barang-barang pribadi yang berpotensi terkontaminasi darah (seperti gunting kuku dan sikat gigi) juga bisa dilakukan sebagai pencegahan.
Meski penyakit ini jarang menular melalui hubungan seks, penggunaan alat pengaman seperti kondom dapat menghindarkan Anda dari hepatitis C. Terutama jika terjadi kontak dengan darah, misalnya seks anal atau darah menstruasi.


Penderita hepatitis C juga lebih berisiko untuk terkena hepatitis jenis lain. Dokter umumnya menganjurkan vaksinasi untuk mencegah hepatitis A dan B.

TAHU ACI

Resep Tahu Aci Khas Tegal  – Tahu aci yaitu salah satu cemilan yang teramat khas dan populer dari kota Tegal. Tahu aci kebanyakan disajikan...